Menjadi Hadir
Tulisan ini ditulis di Jakarta, on the fourth week of my self-quarantine (I guess?) --- Apakabar kalian? Saya harap baik. I really, really mean it . Dalam satu dekade terakhir saya akui dunia emang terasa begitu bising, begitu tergesa. Tapi hari ini keliatannya beberapa orang udah kenal ritmenya yang mulai melambat, mengizinkan robot-robot pemikir seperti kita mengendurkan ambisi untuk kembali menemui siklus napasnya. Mereka bilang semesta lagi mengembalikan dirinya yang telah rusak, walaupun ada yang menyayangkan kalimat ini dilontarkan secara tega padahal di luar sana sedang banyak yang kehilangan nyawa. Nggak jarang saya berandai-andai, mungkin gak ya hidup ini bakal kembali normal? atau menerima sebuah normal yang baru akan jadi satu-satunya jalan keluar? Kalo boleh jujur, saya rindu teman-teman saya. Saya cuma pengen mereka tau apa yang saya rasa, alih-alih menerka apakah mereka juga melakukan hal yang sama. Melihat koleksi foto saya yang sedang melempar senyum ke kamera ...