Posts

Showing posts from 2020

21 November 2020.

Image
22 melesat begitu cepat... Senja dalam kereta, pukul setengah enam kurang lima. Di sekitar kamu dapati penumpang yang terlelap bersama lelahnya, sorot mata yang tertuju ke layar kaca, atau yang menatap kosong ke luar jendela. Perbincangan wanita muda dengan rekannya yang berpadu dengan pengumuman dari pengeras suara masih terdengar samar di balik earphone yang kau tempel di telinga. Di stasiun sana, kamu lihat orang-orang melangkah dengan tergesa, berlalu lalang mengarah ke tujuannya. Perhatianmu mengembara, membuatmu menyadari satu hal; bahwa sepertinya hidup memang sedang memintamu untuk berjalan perlahan—hari ini, tahun ini. Alih-alih menyamakan langkah mereka, kamu justru memilih untuk menikmatinya. Ternyata mewah sekali, ya? masih diberi kesempatan menjadi saksi dari banyak peristiwa, mengamati manusia dan segala hal kemanusiaan di antaranya. Kamu sibuk sekali maknai peranmu untuk mereka, menepis banyak perih yang sedang kamu rasa. Untuk tiap sepi yang kamu amati, kamu tawarkan h...

Terus Bertahan, Teruslah Hidup

“...have you ever felt like you could disappear? like you could fall, and no one would hear?...”  Butuh banyak kacamata untuk saya gunakan hingga akhirnya bisa paham bahwa pada satu titik redup pasti datang, beberapa bahkan lebih lama bersarang. Dihisapnya terang dari orang-orang yang saya sayang, sampai habis energinya untuk menunjukkan bayang. Banyak dari mereka yang masih membiru di dalam cangkang sendiri, hanya berkawan dengan pikiran dan hati yang berteriak ingin berhenti . Ada suatu kondisi dimana sederet tanda tanya di kepala menahan kalian melakukan aktivitas sehari-hari. Tertaut pula di pikiran perihal eksistensi kalian di dunia, dengan bekal yang kalian punya, yang (menurut kalian) belum ada apa-apanya. It felt like your mind sinks in the downward spiralling blackhole wondering whether you've been doing the things right. Sulit dipahami memang, kecuali titik ini sudah pernah sampai di tangan kalian. It’s just hard for you to get out of bed or find any meaning to your life....

Tuhan Baik

Ya Allah, please forgive me for not counting your blessings. 2020 adalah tahun yang cukup sulit bagi banyak orang. Saya mengerti. Ada yang mengalami keterbatasan ekonomi, pemutusan hubungan kerja, pembelajaran jarak jauh, kehilangan orang yang dicinta, terpaksa menetap di lingkungan keluarga yang tidak sehat, atau harus berjuang sekuat tenaga untuk melawan penyakitnya. Hidup kita semua sucks, in one way or another . And, really , sometimes it's just too hard to find the silver lining. Saya belum bisa menarik esensi sebuah cerita jika saya belum selesai membaca buku. Dan kali ini, bukunya benar-benar tebal. Rasanya banyak hari yang saya lewatkan hanya untuk menghela napas di ujung malam dan bergumam dalam hati,  “sampai kapan, Tuhan? ” saya ingat pernah menemukan satu tulisan di instagram yang berbunyi: “when it seems like finding reason to be grateful is getting tougher,  that's exactly the moment we should look for it harder.” Tulisan itu beneran jadi pengingat buat saya k...

Emosi dan Mimpi

Saya harap kamu selalu bahagia.  Mantra itu kerap saya dengar dalam banyak perayaan, dalam tiap doa yang dirapalkan. Ada yang digaungkan beriringan dengan lilin angka yang ditiup padam, ada pula yang melebur penuh penghayatan pada tangis pukul tiga malam. Namun semuanya mengharapkan muara yang serupa: Kebahagiaan. Sejak saya kecil, yang saya tahu kebahagiaan sudah menjadi bentuk emosi yang dianak-emaskan. Sentosa, euforia, atau apa pun itu bentuknya, menjadi standar yang menormalisasi kehidupan. Segala perasaan di luar itu dianggap sebagai sesuatu yang mengerikan, perlu dihindari, bahkan harus segera dicari obatnya. Berbeda dengan rasa gembira yang biasa disampaikan secara meluap-luap, seseorang yang bersedih cenderung lebih berhati-hati. Mereka hanya akan berbagi dengan beberapa yang mereka percayai. Tidak jarang pula mereka simpan nestapa itu untuk diri sendiri. “Sebarkan aura positif” sudah menjadi jargon yang dipekikkan di mana-mana. Yang sedih akan mencari cara untuk bahagia, ...

Mencari ke Dalam

Dulu ketika saya masih kecil, rasanya semua hal dibuat sederhana. Satu tambah satu sama dengan dua juga langsung saya terima tanpa berpikir variabel lainnya. Mana pernah punya waktu merenungkan segalanya perihal konsep dunia dan isinya, apa-apa yang menimbulkan tanya pasti saya dekati untuk langsung saya coba. Lelah yang saya kenal adalah lelah karena balapan naik sepeda, jatuh pun tidak apa-apa, paling juga membuat lutut terluka. Dulu saya mana paham dengan beban pikiran? Terlalu sibuk saya berlarian di luar untuk bermain banyak peran. Terhadap semua hal, saya ingin berteman. Di sekolah, saya mulai diajarkan banyak hal. Saya mulai menghitung, mulai menuliskan kata yang didikte oleh bapak-ibu guru. Dunia berubah menjadi sedikit rumit, seakan apa-apa yang berharga adalah hal-hal yang bisa diukur dengan angka. Peringkat kelas, jumlah teman, hingga banyaknya uang jajan di saku celana menjadi parameter dari bahagia. Manusia berlomba-lomba menjadi juara, turuti ambisi untuk lebih bersi...

Senandika

*** tiap sudut kuperhatikan benar ada dunia di dalam datar kepala kecil, tanyanya besar sorot matanya lurus berbinar apa aku kenal? menangis, menangis dia kencang puas merasa seada-adanya takut dia bilang takut lemah bertaut memeluk lutut kalut, kusut, terus mengerut bertahun lembar dibaliknya dewasa aku sudah, katanya jauh lebih bijaksana, akunya “hai, hidup manusia bukan melankolia punya hati tak boleh terus nelangsa” di balik riasnya yang berlebihan ku dapati raga tak bertuan hati sepi yang tak berteman rapih peliknya dia simpan perihal mimpi yang menjauh dari jangkauan atau dunianya yang tak baik belakangan tapi lihat senyum siapa yang paling mekar tawa siapa yang paling lebar pandai dia bermain kelakar mengobral sabar demi pujian tegar cih, apa hebatnya mengulum keluh? berusaha untuk tetap penuh pura-pura sembuh berlagak utuh kala jiwa tinggal separuh tidak apa-apa pekik suara di kepalaku tidak apa-apa berkata pula dia dalam bisu bers...

Menjadi Hadir

Tulisan ini ditulis di Jakarta, on the fourth week of my self-quarantine (I guess?) --- Apakabar kalian? Saya harap baik. I really, really mean it . Dalam satu dekade terakhir saya akui dunia emang terasa begitu bising, begitu tergesa. Tapi hari ini keliatannya beberapa orang udah kenal ritmenya yang mulai melambat, mengizinkan robot-robot pemikir seperti kita mengendurkan ambisi untuk kembali menemui siklus napasnya. Mereka bilang semesta lagi mengembalikan dirinya yang telah rusak, walaupun ada yang menyayangkan kalimat ini dilontarkan secara tega padahal di luar sana sedang banyak yang kehilangan nyawa. Nggak jarang saya berandai-andai, mungkin gak ya hidup ini bakal kembali normal? atau menerima sebuah normal yang baru akan jadi satu-satunya jalan keluar? Kalo boleh jujur, saya rindu teman-teman saya. Saya cuma pengen mereka tau apa yang saya rasa, alih-alih menerka apakah mereka juga melakukan hal yang sama. Melihat koleksi foto saya yang sedang melempar senyum ke kamera ...

Mantra

"Ya Allah, Engkau Sebaik-baiknya Penyayang, sayangilah hamba disaat hamba tidak lagi mampu menyayangi diri ini... Ya Allah hamba sangat kecil dan lemah, maka peluklah hamba. Peluk hamba yang erat ya Allah... Agar tetap hidup. Agar tetap bisa ada." The spell I mumbled on the nights I spent putting back together something that has fallen apart— me .

Pejalan

*** sibuk lihat kanan kiri berlari berlari mereka sampai di banyak mimpi sedang saya masih di sini yang mereka ada saya belum ada yang mereka punya saya belum punya tapi yang mereka takut pernah saya peluk yang mereka tangisi pernah saya lewati dan kepada-Nya saya berterimakasih telah mengenalkan lebih dulu perihal perih satu yang saya sadari setiap proses adalah langkah kaki berjalan berjalan jatuh berdiri tertatih berjalan kembali mereka boleh saja berlari nyatanya saya pun tak berhenti cepat atau lambat sehasta demi sehasta kita semua sedang melaju sama-sama bergerak maju —mega oriska ***  originally published at Menjadi Manusia

Kalau Sampai, Mau Apa?

Dulu masih kecil sering ditanya “udah besar mau jadi apa?” , sampai kepala sendiri akhirnya diskusi langsung ke hati, iya juga ya, dewasa nanti saya mau jalanin hidup yang kayak gimana? Seakan ada tembok raksasa yang membatasi antara hidup hari ini, dan nanti—kalau udah dewasa. Banyak tanda tanya besar, banyak mimpi dilempar ke arah sana. Beberapa bilang dewasa bukan angka yang perlu ditunggu, jadi mereka coba jalan sendiri mencari tau. Beberapa justru sengaja menghindari, tapi berujung gapunya cukup isi untuk menghadapi. Kali ini saya mau kasih hal yang sedikit personal. Kalau kemarin udah baca cerita saya di fase kuliah tingkat akhir dan drama pengerjaan TA, sekarang saya udah disambut di gerbang fase hidup selanjutnya. Kalau kita tarik ke waktu saya di umur muda, masih sangat sedikit kamus yang saya kenal tentang cita-cita. Dari sedikit informasi yang saya terima dan peran yang saya temui di dunia nyata, gak sekalipun dalam hidup saya pernah berkeinginan jadi dokter se...