Senandika


***
tiap sudut kuperhatikan benar
ada dunia di dalam datar
kepala kecil, tanyanya besar
sorot matanya lurus berbinar

apa aku kenal?

menangis, menangis dia kencang
puas merasa seada-adanya
takut dia bilang takut
lemah bertaut memeluk lutut
kalut, kusut, terus mengerut

bertahun lembar dibaliknya
dewasa aku sudah, katanya
jauh lebih bijaksana, akunya

“hai, hidup manusia bukan melankolia
punya hati tak boleh terus nelangsa”

di balik riasnya yang berlebihan
ku dapati raga tak bertuan
hati sepi yang tak berteman
rapih peliknya dia simpan
perihal mimpi yang menjauh dari jangkauan
atau dunianya yang tak baik belakangan

tapi lihat
senyum siapa yang paling mekar
tawa siapa yang paling lebar
pandai dia bermain kelakar
mengobral sabar demi pujian tegar

cih, apa hebatnya mengulum keluh?
berusaha untuk tetap penuh
pura-pura sembuh
berlagak utuh
kala jiwa tinggal separuh

tidak apa-apa
pekik suara di kepalaku
tidak apa-apa
berkata pula dia dalam bisu
bersama diam aku terpaku

apa aku kenal?

—mega oriska

*** 


Senandika bermakna sebagai wacana seorang tokoh dengan dirinya sendiri untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut. Terinspirasi dari lagu Nadin Amizah berjudul Cermin, tulisan ini saya buat sebagai interpretasi sederhana dan emosional atas ‘cermin’ dalam bentuk yang berbeda. Tentang monolog yang kerap mengiring kala memandang bayang diri sendiri, memperlihatkan berbagai jati diri yang berusaha dilahirkan seiring usia yang terus berkelanjutan. Petualangan seseorang yang mulai mengenal dirinya sendiri, sampai tidak mengenal dirinya sendiri.

Comments

  1. Suka banget 💕ditunggu karya-karya selanjutnyaa!!

    ReplyDelete
  2. AAAAAK ADEL TERIMA KASIH SUPPORTNYA! showing a little support can go a veryyy looong waaay for someone, so thank you 🖤

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Berapa Lama Lagi?

Sebuah Tanya di Teras Rumah

part II.