Posts

Showing posts from 2021

Boleh Bicara Sebentar?

*** pergimu terlewat di belakang jauh sejauh peluk yang mulai samar seperti garisnya semakin tegas           —aku dengan sibukku              kau, dengan tenangmu siang ku habis hidupi mimpi            (apa kau masih bisa bermimpi?) malamku terbangun meresap sepi berulang kali membongkar kosong yang sejak lama kutelan bulat-bulat lihat, lihat! aku ada di tengah tawa-tawa yang ku sayang bisa kau usap kepalaku? sebentar katakan kau bangga padaku sebentar bagaimana dengan kisahmu aku mau dengar aku mau dengar kau boleh bawa pulang doa-doaku jadikan mereka teman tidurmu —atau tidak pun, tak apa-apa karena kau adalah kau dan segala kebaikan yang terus menyertaimu aku yakin liang -mu bahkan lebih hangat dari duniaku hai, boleh kupinjam sedikit kuatmu, boleh? atau lembutmu, atau tulusmu, atau baikmu untuk membalut banyak hitamku tak peduli apapun sisamu aku mau aku yang kuat tet...

Sisa—

Katanya, jangan sedih, karena nanti mereka yang sayang sama kita akan ikutan sedih. Katanya, jangan lupa bersyukur, karena kita udah dikasih bermilyar-milyar hal baik. Katanya, jangan berhenti berbuat baik ke orang lain, selalu bantu mereka selagi kita masih dikasih kesempatan untuk membantu. Katanya, jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup, seberat apapun masalah yang lagi kita hadapi. really, she got it. but she didn't have much energy left. she told Him a lot. about everything. and then— she cried. "Ya Allah, hidupkanlah hamba jika kehidupan itu lebih baik untuk hamba, dan matikanlah hamba jika kematian itu lebih baik bagi hamba."

Doa Orang Serakah

Ada satu pinta sederhana yang selalu berusaha saya selipkan di tengah doa-doa yang serakah, di antara segala hal besar yang tak pernah alpa saya amini untuk diri sendiri. Doa agar Tuhan tidak berhenti memberkahi saya dengan cinta—yang dapat terus saya salurkan pada jiwa lainnya, sekalipun saat saya sedang tidak punya apa-apa. Sedikit pengalaman hidup yang telah saya lahap di usia kepala dua nyatanya memberi banyak dampak pada anak kecil yang hidup dalam diri saya; tumbuh menjadi seorang perasa adalah salah satunya. Kerap saya temukan diri saya berusaha memahami banyak hal tak hanya sebatas pada kulitnya, karena saya percaya bahwa selalu ada alasan-alasan kuat di balik tiap perangai manusia. Dulu, saya menganggap bahwa kebiasaan ini bukanlah sesuatu yang layak dipelihara. Toxic positivity, serta berbagai narasi lainnya ternyata sukses melahirkan beberapa miskonsepsi bahwa setiap ketulusan yang hadir adalah sebuah kepalsuan. Hidup dalam lingkungan yang gemar menghakimi membuat saya sela...