Boleh Bicara Sebentar?

***

pergimu terlewat di belakang
jauh
sejauh peluk yang mulai samar
seperti garisnya semakin tegas
          —aku dengan sibukku
             kau, dengan tenangmu

siang ku habis hidupi mimpi
          (apa kau masih bisa bermimpi?)
malamku terbangun
meresap sepi berulang kali
membongkar kosong yang sejak lama kutelan
bulat-bulat

lihat, lihat!
aku ada di tengah tawa-tawa yang ku sayang
bisa kau usap kepalaku? sebentar
katakan kau bangga padaku
sebentar

bagaimana dengan kisahmu
aku mau dengar
aku mau dengar
kau boleh bawa pulang doa-doaku
jadikan mereka teman tidurmu
—atau tidak pun, tak apa-apa
karena kau adalah kau
dan segala kebaikan yang terus menyertaimu
aku yakin liang-mu bahkan lebih hangat dari duniaku

hai,
boleh kupinjam sedikit kuatmu, boleh? atau
lembutmu, atau
tulusmu, atau
baikmu
untuk membalut banyak hitamku
tak peduli apapun sisamu aku mau

aku yang kuat tetapi tidak
masih sering tersandung dalam lelahku
berani teriak mati tetapi tidak
seharusnya aku bersiap tetapi belum
belum pula kusiapkan tanahku dan
nyaliku, dan
bekalku, dan
amalan-amalanku

silahkan kau pulang, silahkan
silahkan kembali menyaksikan lugunya
manusia di dunia
yang hidup berputar dalam
tanda tanya—

siapa yang lebih dulu mencium nisan (siapa) ?


—mega oriska

***

Comments

Popular posts from this blog

Berapa Lama Lagi?

Sebuah Tanya di Teras Rumah

part II.