Sebuah Tanya di Teras Rumah
Menulis adalah sebuah upaya mengemas rasa agar tidak terabai, kasat, kemudian hilang; satu-satunya cara membuat manusia menjadi abadi—
—dalam memori.
***
Pernah dengar cerita dari rumah kecil di ujung sana?
Halamannya tidak lapang, jarang orang besar berlalu lalang. Tiap sudutnya terang menderang—sedang dilimpah banyak cukup, tidak ada satu yang kurang.
Jelas tak ada apa-apa di dalam rumah, kecuali hangat yang sengaja Tuhan titip lewat tuannya. Hanya itu yang kerap disuguhkan untuk tamu-tamunya—semuanya cukup, tak pula ada satu yang kurang.
Lalu datang Tanya mengetuk pintu kayunya.
Tanyanya besar, menggendong ransel yang isinya jauh lebih besar. Rumahnya terlalu kecil, takut apabila ruangnya tidak muat menampung Tanya dan segala yang dia bawa.
“Tanya, keluarkan semua isi tas mu agar tidak berat.”
“Pelan-pelan,” katanya. “Masih banyak waktu.”
Hampir setahun lembaran terbuka, dengan Tanya yang setia mematung di atas kakinya. Cukup seru berbincang, dia ceritakan banyak hal yang terjadi di dunianya. Beberapa beban dikeluarkan dari ransel besarnya, sedikit demi sedikit. Masih di pelataran rumah, belum juga dia masuk. Tidak tahu apakah benar dia berniat untuk masuk.
Rumah kecil sering menyambut banyak tamunya dengan suka cita. Isinya mungkin penuh manusia, sisa satu ruang yang sengaja dikosongkan. Ruangnya lebih hangat, namun lebih jauh masuk ke dalam—butuh sedikit usaha untuk menjangkaunya. Tanya boleh menggunakannya untuk tinggal selamanya, atau untuk singgah sementara. Sungguh, tidak apa-apa.
“Tanya, silakan masuk.”
“Pelan-pelan,” katanya. “Masih banyak waktu.”
Aku adalah si tuan rumah. Tak lagi kupaksa tamuku untuk memilih ruang yang kumau. Kusediakan karpet lembut dan minuman manis agar Tanya tetap nyaman, walau dia tak berkenan ada di dalam. Aku bersila di depan pintu, memandang binar matanya, menunggu apa lagi cerita yang dia bawa. Semakin hari kulihat Tanya semakin kecil. Tentu masih menyisakan bingung, tapi paling tidak sudah tak lagi membuat takut. Semakin dekat, tapi juga semakin jauh. Semakin kenal, namun semakin banyak yang harus kukenal.
Sependek pengetahuanku, pikirku aku sudah piawai menyikapi hidup. Tanya ternyata punya cahaya yang lebih kaya, memberiku tidak sedikit sudut pandang baru. Jika ini sebuah pertandingan catur, aku rasa nama pemenangnya sudah ada jauh sebelum babak dimulai. Aku lah si pencipta permainan, Tanya membaca seluruh strategi pergerakanku, seperti semua sudah ada dalam kepalanya. Aku kalah. Tanya boleh bawa pulang pialanya, sebagai hadiah untuk hari kelahirannya.
Akan kubekali dia banyak doa lainnya. Semoga dayanya mampu untuk menetralkan yang beracun, melapangkan yang sempit, menyirami yang kering. Tangannya dibuat ringan dalam menyembuhkan dan menumbuhkan apapun yang dia sentuh. Di tengah roda yang porosnya beputar dengan sangat cepat, dia bersedia untuk bergerak lebih lambat. Di tengah pengejaran dunia, dia rela bergerak tenang. Di tengah segala yang serba bisa, dia lapang menjadi tak bisa. Seperti apa yang pernah terbenam dalam tulisannya: bahwa hidup sungguh hanya tertuju pada suatu ketiadaan, untuk selalu berproses menuju penyempurnaan.
Tuhan tidak akan menuliskan apapun untukku kecuali hal baik.
Boleh jadi ditakdirkannya Tanya menjadi titik sebuah kisah—
(tentu ini hal baik)
—atau mungkin hanya menjadi koma, seperti semua yang sudah-sudah.
(maka ini juga baik)
Untuk itu kepada Tanya, kemanapun arahmu bergegas setelah ini, terima kasih banyak.
Terima kasih, sudah mau bermukim di teras rumahku yang sederhana.
***
Comments
Post a Comment