Berapa Lama Lagi?

Menulis adalah sebuah upaya menghadirkan rasa yang nyaris tak bergema. Menyentuh dan memeluk yang pernah, agar mereka tak lenyap seluruhnya—

tanpa sisa.


***


Banyak sekali yang sudah kutelan sampai aku bingung berapa bagian yang boleh kumuntahkan. Kepalaku terlalu bising. Silakan saja dibelah, isinya ramai seperti pasar—saling berebut keluar tidak ada yang mau mengalah. Kali ini aku minta mereka untuk diam. Duduklah yang manis dan kembali dengarkan rumah kecilku bercerita…

tentang Tanya, dan segala yang terjadi di dalamnya.


Tanyaku sayang, kini dia punya nama. Masih ingat tentang ruang kosong yang kusimpan rapat-rapat? kini dia penghuninya. Kunci satu-satunya yang aku punya, kuletakkan di saku celananya. Berbekal harap: mudah-mudahan dia tidak lupa menaruhnya, tidak pula dengan sengaja membuangnya.

Sekarang aku bisa bernyanyi keras-keras. Tak ada lagi rasa yang perlu kusembunyikan pada diksi yang liris, atau di antara jeda kalimat miris. Aku siap memberikan seribu senyum—atau bahkan segala sisa yang kupunya—untuk sekadar menghibur harinya. Lesung pipiku ini kiranya Tuhan ciptakan memang untuknya. Gila. Jika semua manis ini kulanjutkan, aku rasa bulan pun sungkan menghentikan lidahku berbicara. Aku benar-benar sedang gila.


“Apakah bukunya sudah tamat?”

Belum, sayang. Sayangnya belum.


Tanya yang kini kudekap, belum sembuh dan penuh menjadi jawab. Kadang ia sudi mengecil saat aku mendekatinya, lain hari tanda tanya itu kembali tumbuh menjadi raksasa—ditulis dengan huruf besar semua. Membuatku bingung, tapi tidak cukup tegas untuk membuatku lari darinya. Dia masih menjadi soal matematika yang sangat sulit. Dia tetaplah buku pelit sinopsis yang tak bisa kuintip isinya, tidak seperti apa yang mudah dan biasa kubaca. Dia bukan teka-teki yang menawarkan petunjuk. Dia adalah dingin dan diam yang sangat panjang—samar dan sepertinya diciptakan memang bukan untuk ditebak-tebak.

Namun, Tuhanku yang Maha Baik itu selalu punya cara. Tanya yang tak banyak bicara, menemukan pintu rumah kecilku yang meriah. Dengan takut dan berani, dia masuk ke dalam rumah kayuku yang tidak mewah—yang atapnya masih sering bocor ketika hujan datang terlalu deras, yang tebal dindingnya bahkan tidak lebih dari sejengkal telapak tangan manusia. Dengan kerendahan hati, dia menyapu debu-debuku yang tidak terlihat—di balik bantal, di sela kusen, di sudut atap yang rapuh. Ratusan kali kukatakan pintu keluarnya di sebelah sana, namun dia terus menghiraukannya. Tanyaku tak kasat rasa, sama sekali tak ahli menjahit hatinya dalam kata. Tetap dia bawa lemahnya itu, untuk tidur di rumahku yang penuh rasa. Berbaring pasrah tubuhnya di dalam kamarku yang sesak rasa. Sisanya, adalah peran Tuhan yang melembutkan dan meleburkan kami berdua.

Sudah banyak sekali musim tak memihak yang dilewati, dan aku tahu musim itu akan selalu ada. Kami bertemu bukan di waktu yang sepenuhnya lapang, bukan pula dalam keadaan jiwa yang utuh dan matang. Hidup menggariskan pertemuan ini dengan segala yang sedang dan segala yang kurang. Ingin diujinya seberapa panjang kesabaran kami untuk saling menunggu dan menopang. Ingin diujinya seberapa jauh kami saling percaya, meski kejujuran masih takut diucap lantang.

Segala hal konyol perihal cinta, biarlah sini aku yang bawa. Tanya bukannya tidak punya, dia hanya belum mengenalnya. Tidak apa-apa. Sudah menjadi tugasku untuk membantu mengurainya—melalui selamat pagi, melalui puisi, melalui lambaian takut yang penuh semangat, melalui segala tulus yang baginya tak pernah istimewa. Dengan cahaya dan segenap hangatku, akan kusentuh dirinya
yang dingin,
yang gelap,
yang pahit,
yang kecil,
yang dingin,
yang berantakan,
yang (katanya) kotor,
yang dingin.
Kupeluk semua miliknya yang menurutnya tak indah. Kupinjam banyak dari sayangku, kutuang pelan ke dalam tangkinya sampai tumpah ruah. Paling tidak, sampai sedikitnya kembali padaku, dalam bentuk yang sama. Bersamanya, aku percaya kelak kemenanganku ditulis lebih besar dibanding apa yang tidak kudapatkan dari dia.

Tiap malam aku berdoa, menadahkan tanganku tinggi-tinggi sampai jemariku hampir menyentuh kuku kaki Tuhan. Merayu, membujuk, memohon agar apa yang aku harapkan dan apa yang Tuhan persiapkan, punya baik yang persis sama. Agar kiranya aku dan Tanya dibuatnya satu, saling berbagi dalam segala prosesnya—yang hebat, yang remeh, yang kuat, yang rapuh, yang perih—semuanya. Setiap saat. Setiap hari. Sepanjang waktu. Saat hidup terasa luar biasa, juga saat hidup terasa terlalu biasa.


Tanyaku sayang, Tanyaku yang hebat, ku kalungkan medali terbaik untukmu tahun ini dan selamanya.

Aku besar berharap kita dapat terus mengatur ruang bersama, pada perayaan kali ini, juga untuk selanjut-selanjutnya.


***

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Tanya di Teras Rumah

part II.