Mencari ke Dalam
Dulu ketika saya masih kecil, rasanya semua hal dibuat sederhana. Satu tambah satu sama dengan dua juga langsung saya terima tanpa berpikir variabel lainnya. Mana pernah punya waktu merenungkan segalanya perihal konsep dunia dan isinya, apa-apa yang menimbulkan tanya pasti saya dekati untuk langsung saya coba. Lelah yang saya kenal adalah lelah karena balapan naik sepeda, jatuh pun tidak apa-apa, paling juga membuat lutut terluka. Dulu saya mana paham dengan beban pikiran? Terlalu sibuk saya berlarian di luar untuk bermain banyak peran. Terhadap semua hal, saya ingin berteman. Di sekolah, saya mulai diajarkan banyak hal. Saya mulai menghitung, mulai menuliskan kata yang didikte oleh bapak-ibu guru. Dunia berubah menjadi sedikit rumit, seakan apa-apa yang berharga adalah hal-hal yang bisa diukur dengan angka. Peringkat kelas, jumlah teman, hingga banyaknya uang jajan di saku celana menjadi parameter dari bahagia. Manusia berlomba-lomba menjadi juara, turuti ambisi untuk lebih bersi...