Mencari ke Dalam

Dulu ketika saya masih kecil, rasanya semua hal dibuat sederhana. Satu tambah satu sama dengan dua juga langsung saya terima tanpa berpikir variabel lainnya. Mana pernah punya waktu merenungkan segalanya perihal konsep dunia dan isinya, apa-apa yang menimbulkan tanya pasti saya dekati untuk langsung saya coba. Lelah yang saya kenal adalah lelah karena balapan naik sepeda, jatuh pun tidak apa-apa, paling juga membuat lutut terluka. Dulu saya mana paham dengan beban pikiran? Terlalu sibuk saya berlarian di luar untuk bermain banyak peran. Terhadap semua hal, saya ingin berteman.

Di sekolah, saya mulai diajarkan banyak hal. Saya mulai menghitung, mulai menuliskan kata yang didikte oleh bapak-ibu guru. Dunia berubah menjadi sedikit rumit, seakan apa-apa yang berharga adalah hal-hal yang bisa diukur dengan angka. Peringkat kelas, jumlah teman, hingga banyaknya uang jajan di saku celana menjadi parameter dari bahagia. Manusia berlomba-lomba menjadi juara, turuti ambisi untuk lebih bersinar daripada yang lainnya. Bukankah mereka hanya memberi tepuk tangan untuk garis akhirnya?

Di usia kepala dua, hidup mulai memberi saya banyak sekali ujian. Namun sering kali saya tidak tahu apa jawabannya. Bagaimana saya menyikapi kekecewaan, bagaimana saya memaafkan ketidaksempurnaan, bagaimana saya memberi ruang untuk kegagalan, saya tidak pernah mendapat teori ini di sekolah dan kuliah.

Lalu, saya harus tanya ke mana?

Saat alur hidup tidak sepadan dengan rencana, saya merasa di situ ada yang salah. Saya merasa hilang arah. Saya takut berbicara, takut apabila berat saya membebankan mereka yang dekat dengan saya, takut apabila gelap saya turut meredupkan terang mereka. Namun, manusia bukanlah robot yang tak punya rasa, tidak bisa selamanya berpura-pura.

Barangkali menelan segalanya bulat-bulat menjadi satu-satunya opsi. Saya coba izinkan diri saya merasakan kesedihan. Saya tepuk punggung saya. Saya elus kepala saya bukan untuk diri yang juara, melainkan untuk prosesnya. Proses mungkin mengikis kehidupan, namun proses mendewasakan. Proses mungkin memancing saya untuk mengeluh, namun proses membuat saya bertumbuh. Proses yang saya lewati menjadi sebuah buku panduan, manual untuk kehidupan saya selanjutnya.

Setelah ini, saat saya kembali berada dalam suatu pencarian, mungkin saya harus coba tengok ke dalam?

Barangkali jawaban yang saya cari ternyata ada di dalam diri sendiri.
-

Mega Oriska

originally published at Menjadi Manusia (edited)

Comments

Popular posts from this blog

Berapa Lama Lagi?

Sebuah Tanya di Teras Rumah

part II.