Posts

Berapa Lama Lagi?

Menulis adalah sebuah upaya menghadirkan rasa yang nyaris tak bergema. Menyentuh dan memeluk yang pernah, agar mereka tak lenyap seluruhnya— tanpa sisa. *** Banyak sekali yang sudah kutelan sampai aku bingung berapa bagian yang boleh kumuntahkan. Kepalaku terlalu bising. Silakan saja dibelah, isinya ramai seperti pasar—saling berebut keluar tidak ada yang mau mengalah. Kali ini aku minta mereka untuk diam. Duduklah yang manis dan kembali dengarkan rumah kecilku bercerita… … tentang Tanya, dan segala yang terjadi di dalamnya. Tanyaku  sayang , kini dia punya nama. Masih ingat tentang ruang kosong yang kusimpan rapat-rapat? kini dia penghuninya. Kunci satu-satunya yang aku punya, kuletakkan di saku celananya. Berbekal harap: mudah-mudahan dia tidak lupa menaruhnya, tidak pula dengan sengaja membuangnya. Sekarang aku bisa bernyanyi keras-keras. Tak ada lagi rasa yang perlu kusembunyikan pada diksi yang liris, atau di antara jeda kalimat miris. Aku siap memberikan seribu senyum—atau ba...

part II.

بِ سْمِ   اللَّهِ   الرحمن   الرَّحِيمِ   Ya Allah, Yaa Sami’. Yang Maha Mendengar setiap bisikan hati. puji syukur kulangitkan untuk tiap harap yang sedang Kau jawab. untuk teman yang Kau hadirkan membersamai. untuk hati yang (atas izin-Mu) Kau mampukan untuk mencintai. Ya Allah… sesungguhnya ilmuku masih sangat dangkal, maka perdalamlah. sesungguhnya imanku masih sangat lemah, maka kuatkanlah. jagalah rasa cintaku pada makhluk-Mu agar ia tidak terus tumbuh hingga melebihi tahta cintaku kepada-Mu. bimbing aku untuk menjaga amanah ini dengan sebaik-baiknya. Ya Allah, Yaa ‘Aliim. Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tidak kuketahui. ridhoilah apa yang menurut-Mu baik dan kelak melahirkan banyak kebaikan, agar ia dapat menjadi berkah di dunia dan akhirat. dekatkanlah aku selalu dengan-Mu, ya Allah… dekatkan pula aku dengannya yang selalu mencintai-Mu, yang juga mencintaiku karena-Mu. jangan biarkan hati kami terus terpaut, kecuali jika kami dapat saling menguatkan ...

Sebuah Tanya di Teras Rumah

Menulis adalah sebuah upaya mengemas rasa agar tidak terabai, kasat, kemudian hilang; satu-satunya cara membuat manusia menjadi abadi— —dalam memori. *** Pernah dengar cerita dari rumah kecil di ujung sana? Halamannya tidak lapang, jarang orang besar berlalu lalang. Tiap sudutnya terang menderang— sedang dilimpah banyak cukup, tidak ada satu yang kurang. Jelas tak ada apa-apa di dalam rumah, kecuali hangat yang sengaja Tuhan titip lewat tuannya. Hanya itu yang kerap disuguhkan untuk tamu-tamunya— semuanya cukup, tak pula ada satu yang kurang. Lalu datang Tanya mengetuk pintu kayunya. Tanyanya besar, menggendong ransel yang isinya jauh lebih besar. Rumahnya terlalu kecil, takut apabila ruangnya tidak muat menampung Tanya dan segala yang dia bawa. “ Tanya, keluarkan semua isi tas mu agar tidak berat. ” “ Pelan-pelan, ” katanya. “ Masih banyak waktu. ” Hampir setahun lembaran terbuka, dengan Tanya yang setia mematung di atas kakinya. Cukup seru berbincang, dia ceritakan banyak hal yang te...

part I.

بِ سْمِ   اللَّهِ   الرحمن   الرَّحِيمِ   Ya Allah, Yaa Rahiim. sesungguhnya hatiku sangatlah lemah, maka jangan biarkan ia jatuh ke seseorang yang memang bukan untukku. pertemukan & dekatkanlah aku dengan seseorang yang juga sedang mendekatkan dirinya dengan-Mu. seseorang yang jika aku bersamanya akan menambah ketaatanku pada-Mu. seseorang yang bila aku didekatnya aku merasa surga-Mu lebih dekat denganku. Ya Allah… dimanapun dia berada, jagalah dia sebagaimana Engkau selalu memelukku. rawatlah hatinya sebagaimana Engkau merawat & melembutkan hatiku. perbaiki akhlaknya sebagaimana Engkau terus membimbing & menyempurnakan akhlakku, Ya Allah. Pertemukanlah kami di waktu yang paling Engkau ridhoi, sehingga kami dapat membawa kebaikan dari diri kami masing-masing. Ya Allah, Yaa Baasith. lapangankanlah hatiku untuk menerima segala takdir-Mu. 🤍

Boleh Bicara Sebentar?

*** pergimu terlewat di belakang jauh sejauh peluk yang mulai samar seperti garisnya semakin tegas           —aku dengan sibukku              kau, dengan tenangmu siang ku habis hidupi mimpi            (apa kau masih bisa bermimpi?) malamku terbangun meresap sepi berulang kali membongkar kosong yang sejak lama kutelan bulat-bulat lihat, lihat! aku ada di tengah tawa-tawa yang ku sayang bisa kau usap kepalaku? sebentar katakan kau bangga padaku sebentar bagaimana dengan kisahmu aku mau dengar aku mau dengar kau boleh bawa pulang doa-doaku jadikan mereka teman tidurmu —atau tidak pun, tak apa-apa karena kau adalah kau dan segala kebaikan yang terus menyertaimu aku yakin liang -mu bahkan lebih hangat dari duniaku hai, boleh kupinjam sedikit kuatmu, boleh? atau lembutmu, atau tulusmu, atau baikmu untuk membalut banyak hitamku tak peduli apapun sisamu aku mau aku yang kuat tet...

Sisa—

Katanya, jangan sedih, karena nanti mereka yang sayang sama kita akan ikutan sedih. Katanya, jangan lupa bersyukur, karena kita udah dikasih bermilyar-milyar hal baik. Katanya, jangan berhenti berbuat baik ke orang lain, selalu bantu mereka selagi kita masih dikasih kesempatan untuk membantu. Katanya, jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup, seberat apapun masalah yang lagi kita hadapi. really, she got it. but she didn't have much energy left. she told Him a lot. about everything. and then— she cried. "Ya Allah, hidupkanlah hamba jika kehidupan itu lebih baik untuk hamba, dan matikanlah hamba jika kematian itu lebih baik bagi hamba."

Doa Orang Serakah

Ada satu pinta sederhana yang selalu berusaha saya selipkan di tengah doa-doa yang serakah, di antara segala hal besar yang tak pernah alpa saya amini untuk diri sendiri. Doa agar Tuhan tidak berhenti memberkahi saya dengan cinta—yang dapat terus saya salurkan pada jiwa lainnya, sekalipun saat saya sedang tidak punya apa-apa. Sedikit pengalaman hidup yang telah saya lahap di usia kepala dua nyatanya memberi banyak dampak pada anak kecil yang hidup dalam diri saya; tumbuh menjadi seorang perasa adalah salah satunya. Kerap saya temukan diri saya berusaha memahami banyak hal tak hanya sebatas pada kulitnya, karena saya percaya bahwa selalu ada alasan-alasan kuat di balik tiap perangai manusia. Dulu, saya menganggap bahwa kebiasaan ini bukanlah sesuatu yang layak dipelihara. Toxic positivity, serta berbagai narasi lainnya ternyata sukses melahirkan beberapa miskonsepsi bahwa setiap ketulusan yang hadir adalah sebuah kepalsuan. Hidup dalam lingkungan yang gemar menghakimi membuat saya sela...

21 November 2020.

Image
22 melesat begitu cepat... Senja dalam kereta, pukul setengah enam kurang lima. Di sekitar kamu dapati penumpang yang terlelap bersama lelahnya, sorot mata yang tertuju ke layar kaca, atau yang menatap kosong ke luar jendela. Perbincangan wanita muda dengan rekannya yang berpadu dengan pengumuman dari pengeras suara masih terdengar samar di balik earphone yang kau tempel di telinga. Di stasiun sana, kamu lihat orang-orang melangkah dengan tergesa, berlalu lalang mengarah ke tujuannya. Perhatianmu mengembara, membuatmu menyadari satu hal; bahwa sepertinya hidup memang sedang memintamu untuk berjalan perlahan—hari ini, tahun ini. Alih-alih menyamakan langkah mereka, kamu justru memilih untuk menikmatinya. Ternyata mewah sekali, ya? masih diberi kesempatan menjadi saksi dari banyak peristiwa, mengamati manusia dan segala hal kemanusiaan di antaranya. Kamu sibuk sekali maknai peranmu untuk mereka, menepis banyak perih yang sedang kamu rasa. Untuk tiap sepi yang kamu amati, kamu tawarkan h...

Terus Bertahan, Teruslah Hidup

“...have you ever felt like you could disappear? like you could fall, and no one would hear?...”  Butuh banyak kacamata untuk saya gunakan hingga akhirnya bisa paham bahwa pada satu titik redup pasti datang, beberapa bahkan lebih lama bersarang. Dihisapnya terang dari orang-orang yang saya sayang, sampai habis energinya untuk menunjukkan bayang. Banyak dari mereka yang masih membiru di dalam cangkang sendiri, hanya berkawan dengan pikiran dan hati yang berteriak ingin berhenti . Ada suatu kondisi dimana sederet tanda tanya di kepala menahan kalian melakukan aktivitas sehari-hari. Tertaut pula di pikiran perihal eksistensi kalian di dunia, dengan bekal yang kalian punya, yang (menurut kalian) belum ada apa-apanya. It felt like your mind sinks in the downward spiralling blackhole wondering whether you've been doing the things right. Sulit dipahami memang, kecuali titik ini sudah pernah sampai di tangan kalian. It’s just hard for you to get out of bed or find any meaning to your life....

Tuhan Baik

Ya Allah, please forgive me for not counting your blessings. 2020 adalah tahun yang cukup sulit bagi banyak orang. Saya mengerti. Ada yang mengalami keterbatasan ekonomi, pemutusan hubungan kerja, pembelajaran jarak jauh, kehilangan orang yang dicinta, terpaksa menetap di lingkungan keluarga yang tidak sehat, atau harus berjuang sekuat tenaga untuk melawan penyakitnya. Hidup kita semua sucks, in one way or another . And, really , sometimes it's just too hard to find the silver lining. Saya belum bisa menarik esensi sebuah cerita jika saya belum selesai membaca buku. Dan kali ini, bukunya benar-benar tebal. Rasanya banyak hari yang saya lewatkan hanya untuk menghela napas di ujung malam dan bergumam dalam hati,  “sampai kapan, Tuhan? ” saya ingat pernah menemukan satu tulisan di instagram yang berbunyi: “when it seems like finding reason to be grateful is getting tougher,  that's exactly the moment we should look for it harder.” Tulisan itu beneran jadi pengingat buat saya k...