21 November 2020.

22 melesat begitu cepat...


Senja dalam kereta, pukul setengah enam kurang lima. Di sekitar kamu dapati penumpang yang terlelap bersama lelahnya, sorot mata yang tertuju ke layar kaca, atau yang menatap kosong ke luar jendela. Perbincangan wanita muda dengan rekannya yang berpadu dengan pengumuman dari pengeras suara masih terdengar samar di balik earphone yang kau tempel di telinga. Di stasiun sana, kamu lihat orang-orang melangkah dengan tergesa, berlalu lalang mengarah ke tujuannya. Perhatianmu mengembara, membuatmu menyadari satu hal; bahwa sepertinya hidup memang sedang memintamu untuk berjalan perlahan—hari ini, tahun ini.

Alih-alih menyamakan langkah mereka, kamu justru memilih untuk menikmatinya. Ternyata mewah sekali, ya? masih diberi kesempatan menjadi saksi dari banyak peristiwa, mengamati manusia dan segala hal kemanusiaan di antaranya. Kamu sibuk sekali maknai peranmu untuk mereka, menepis banyak perih yang sedang kamu rasa. Untuk tiap sepi yang kamu amati, kamu tawarkan hadirmu untuk menemani. Pada perayaan besar sesiapa, kamu turut bersorak dengan sepenuh hati. Tidak berhenti, pun tidak lari. Selalu kamu ajak aku untuk berani menghadapi.

Tak peduli sekeras apapun kamu berupaya, begitulah ceritamu di usia dua puluh dua, seperti sudah diramu Tuhan sebagaimana mestinya. Ia mengajarimu untuk membungkus segala yang datang dengan kerendahan hati, untuk tetap membumi walau puji membawamu ke langit tinggi. Agar saat menang sudah di genggammu, kamu tak lekas bangga dan terburu-buru membusungkan dada. Atau mungkin saat sedih kembali bertamu, kamu sudah terbiasa membuat tangismu reda. Sayang, ternyata ada banyak sekali caramu menghadapi sulit yang membuatku salut.

Sekarang dengar, hari ini kamu semakin besar, dunia yang kamu kenal akan jauh bertambah besarnya, mungkin akan semakin membuatmu merasa kecil, jangan takut, ya? Aku ini payah soal memberimu bahagia. Tapi percayalah, mengamini kebaikan-kebaikan untukmu selalu jadi doaku yang utama.

Untukmu, jiwa yang paling dekat denganku, yang selalu kulibatkan dalam tiap keputusanku: Selamat ulang tahun. Terima kasih sudah mau memaafkan segala kurangku dan kembali memberi kepercayaan padaku di tengah ragumu—berulang kali, sampai aku mati.

Aku menyayangimu, bahkan ketika aku berteriak membencimu.

published at Menjadi Manusia

---

Jakarta, 21 November 2020.

P.s. Terimakasih sudah berusaha dengan sangat baik sejauh ini. Semoga semesta menjawab doamu—apabila itu baik—dengan segera. Selamat 23, selamat ulang tahun Mega!

Comments

Popular posts from this blog

Berapa Lama Lagi?

Sebuah Tanya di Teras Rumah

part II.