Terus Bertahan, Teruslah Hidup
“...have you ever felt like you could disappear? like you could fall, and no one would hear?...”
Butuh banyak kacamata untuk saya gunakan hingga akhirnya bisa paham bahwa pada satu titik redup pasti datang, beberapa bahkan lebih lama bersarang. Dihisapnya terang dari orang-orang yang saya sayang, sampai habis energinya untuk menunjukkan bayang. Banyak dari mereka yang masih membiru di dalam cangkang sendiri, hanya berkawan dengan pikiran dan hati yang berteriak ingin berhenti.
Ada suatu kondisi dimana sederet tanda tanya di kepala menahan kalian melakukan aktivitas sehari-hari. Tertaut pula di pikiran perihal eksistensi kalian di dunia, dengan bekal yang kalian punya, yang (menurut kalian) belum ada apa-apanya. It felt like your mind sinks in the downward spiralling blackhole wondering whether you've been doing the things right. Sulit dipahami memang, kecuali titik ini sudah pernah sampai di tangan kalian. It’s just hard for you to get out of bed or find any meaning to your life. So hard. So, so hard. Try as you might but you just can’t find a single reason why life must go on for you.
Sedikit banyak saya pernah merasakan hal serupa. Masih sehat jiwa raga, alhamdulillah-nya, tapi jelas saya sadar bahwa ketika itu mental saya sedang cedera. Seperti keran yang sudah bocor, apapun yang menyentuh perasaan saya saat itu pasti mengundang air mata, sekalipun itu suara yang sangat lembut atau uluran tangan yang paling hangat. Ada satu lagu yang kerap saya putar berulang kali—yang mungkin rasanya biasa aja kalau saya dengarkan hari ini: You Will be Found dari sebuah musical broadway, Dear Evan Hansen. Lewat lagu itu saya menemukan resonansi, yang membantu saya melepaskan emosi. Beberapa hari, bahkan minggu, saya habiskan untuk menyusun kembali kepingan-kepingan diri yang hilang, as well as counter the negative dark thoughts that were suffocating me—thoughts like what is the point of staying alive anyway if you’re just going to be a useless piece of crap who can’t even get up from bed.
Pertanyaannya,
Bagaimana kalau ini juga terjadi pada teman-teman saya? Bagaimana saya harus berperan ketika ternyata mereka butuh bantuan? Bagaimana saya memaafkan diri saya jika pada akhirnya mereka memilih untuk menyerah?
Saya sedih, mendapati bahwa ada beberapa wajah ceria yang hilang hadirnya di antara kita semua. Bahkan kalau saya bisa, saya ingin sekali memeluk tiap kalian yang sedang lelah. Tapi saya sadar, saya ini juga banyak kurangnya, nggak bisa jadi teman yang baik bagi semua. Satu yang perlu kalian tau, terlepas dari letihnya menjadi telinga, saya selalu senang jika masih dipercaya untuk jadi muara dari banyak suara. Karena lewat tiap cerita, saya diajarkan untuk menjadi lebih manusia. Lewat tiap cerita, saya jadi bisa lihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Lewat tiap cerita saya sadar bahwa ternyata nggak harus mengalami lebih dulu titik yang sama untuk menjadi paham perihal rasa. Walaupun memang butuh bertahun-tahun bagi saya sampai akhirnya mampu mengendalikan diri, berusaha melihat segala sesuatu dari berbagai sisi sebelum berani ikut menghakimi.
Saya akui, seringkali diam saya—atau kita?—menuntut kepekaan dari luar sana. Kenyataannya, bahkan pertanyaan perihal kabar yang datang dari teman lama selalu kita jawab ‘baik-baik aja’ apapun kondisinya. Ego kita sibuk berdalih nggak ada orang yang mau mengerti. Padahal kitanya aja nggak mau komunikasi. Kita sendiri nggak mau dengar kata hati. Memang benar ada masanya kita sulit memahami diri, merasakan kombinasi emosi tanpa alasan yang pasti. Ingin hilang, namun ingin ditemukan. Mau diperhatikan, namun enggan dikasihani. Mendorong semuanya menjauh, padahal butuh tempat berbagi keluh. Berulang kali kita merasa nggak berguna, berulang kali pula kita tenggelam dalam proses pencarian makna. But if you’re start asking about the essence of your life, it’s okay, it means you are a living human being.
Saya di sini cuma pengen berbagi, sama sekali nggak ada niat menggurui. Bukan untuk menilai luka mana yang paling menganga, bukan pula membuktikan derita siapa yang lebih juara. Sejujurnya diri ini juga belum sepenuhnya pulih. Boro-boro menjadi ahli, saya pun payah mengelola hidup sendiri. Masih berulangkali tertampar, terpuruk, jatuh, dan remuk. But, hey, I’ve been through enough to realize that time didn’t heal, it just made you getting used to live with the pain instead. Dengan menulis ini saya juga sadar bahwa semesta bisa kapan aja mengembalikan semua perkataan saya, dengan menguji saya lagi dan lagi. Jika tiba lagi titik dimana saya hilang energi, tolong datang dan temani, bantu saya untuk jadi kuat kembali.
Kalau ditanya apalagi doa besar yang saya punya, jawaban saya hanya satu, yaitu untuk selalu diberkahi cinta agar bisa saya bagikan kepada sesama. Karena terlepas dari apapun yang melabeli kita semua, saya rasa pada akhirnya hidup kita hanya berputar disitu-situ aja. Kalau nanti gelap kita kembali bertanya “untuk apa saya hidup di dunia?”, maka jawabnya adalah untuk menyerap senang dan terang dari sebuah raga dan menyalurkannya ke raga lainnya. Menurut saya hal itu merupakan peran komunal manusia yang sangat mulia. Kita semua bermakna, karena itu kita ada. Agar bisa saling berpegang. Agar bisa saling menopang.
Teman-teman, terima kasih ya, karena tetap memilih teguh bahkan ketika hidup memaksa kalian buat rapuh. Semoga tetap dimampukan kaki itu untuk berpijak. Semoga dilapangkan hatinya untuk menerima setiap luka. Semoga selalu diberikan nyali untuk memulai keterbukaan, hingga terbentuk keterhubungan. I won’t say it’s easy to put a trust in people and open up about your most difficult stories, but it’s worth a try. Jangan pernah remehkan keinginan orang lain untuk menolong kalian. Mungkin kalian berpikir nggak ada satupun orang yang mengerti, tapi percayalah beberapa dari mereka sedang berusaha memahami. Runtuhkan dinding yang kalian bangun sendiri, dengan itulah kalian bisa ditemukan oleh banyak hati yang peduli.
Percayalah, orang-orang baik itu ada.
Mereka ada, setia menunggu di balik sana.
-
Mega Oriska
Comments
Post a Comment