Menjadi Hadir

Tulisan ini ditulis di Jakarta, on the fourth week of my self-quarantine (I guess?)
---
Apakabar kalian? Saya harap baik. I really, really mean it. Dalam satu dekade terakhir saya akui dunia emang terasa begitu bising, begitu tergesa. Tapi hari ini keliatannya beberapa orang udah kenal ritmenya yang mulai melambat, mengizinkan robot-robot pemikir seperti kita mengendurkan ambisi untuk kembali menemui siklus napasnya. Mereka bilang semesta lagi mengembalikan dirinya yang telah rusak, walaupun ada yang menyayangkan kalimat ini dilontarkan secara tega padahal di luar sana sedang banyak yang kehilangan nyawa. Nggak jarang saya berandai-andai, mungkin gak ya hidup ini bakal kembali normal? atau menerima sebuah normal yang baru akan jadi satu-satunya jalan keluar?

Kalo boleh jujur, saya rindu teman-teman saya. Saya cuma pengen mereka tau apa yang saya rasa, alih-alih menerka apakah mereka juga melakukan hal yang sama. Melihat koleksi foto saya yang sedang melempar senyum ke kamera dikelilingi beberapa kawan lama berhasil menampar saya dengan kenyataan bahwa beberapa bulan yang lalu ternyata saya sedang sangat bahagia, cuma saya-nya aja yang belum pandai mensyukurinya. Sekarang berita kematian pun melenggok lewat begitu aja membawa pertanyaan yang tertulis jelas di jidatnya, “siapa lagi nih yang mau nyusul?”. Dia datang dan pergi dengan sangat terburu-buru, sampai kita pun cuma diizinkan merasakan duka dalam bisu.

Pandemi ini... kok lihai sekali ya mengambil peran? masuk ke tiap ruas kehidupan, menutup keran rezeki banyak kepala, merenggut sehat yang selama ini dipelihara. Tapi lagi-lagi, kita punya kuasa apa selain pasrah dan berdiam diri di rumah? Jika diizinkan untuk bersuara, kalendar pun mungkin udah ketawa atas rencana yang udah manusia atur demikian apiknya. Banyak mimpi yang—suka tidak suka—harus digantung jauh di depan, di dalam ruang ketidakpastian. Di sisi lain, situasi ini memaksa saya memaknai kembali apa arti privilese. Engga usah bicara jauh tentang tahta maupun harta (walaupun ya itu termasuk juga). Jarak, dalam edisi ini, juga saya anggap sebagai satu di antaranya. Baik itu jarak dengan lingkungan luar yang berhasil saya jaga karena masih diberi atap untuk bermain petak umpat, maupun jarak saya dengan keluarga yang sekarang sedang Tuhan buat dekat.

God, how long we are gonna have to put up with this...

Dalam situasi ini, untuk memusatkan dunia hanya pada diri saya seorang membuat saya merasa bersalah dua kali lipat. Saya merasa harus segera menyeka air mata apabila tiba-tiba datang memori atas kehilangan, atau atas segala hal lainnya yang terasa berat. Karna ketika saya memilih untuk lebih peka menjadi telinga, banyak cerita yang ternyata lebih menyita perhatian saya. Tentang banyaknya teman yang gak bisa pulang untuk jumpa dengan keluarga, atau mereka yang berada di ‘rumah’ namun gak terasa seperti rumah.

Swaisolasi ini—tentu tidak dengan penyakitnya—boleh jadi merupakan zona yang diidam-idamkan oleh para penyendiri. Mereka bebas tenggelam melakukan hobi tanpa ada yang mendistraksi, menghabiskan banyak waktu berkualitas dengan diri mereka sendiri. Namun sebagian orang lainnya harus memutar otak untuk memerangi bosan, dilanda kecemasan, mengalami kekacauan mental, bahkan hampir gila. Untungnya—dan memang sebaiknya begitu, mereka masih terus berusaha untuk bertahan.

Saya minta satu hal, boleh? Jangan tinggalkan teman-teman kalian sendirian. Perlu digarisbawahi, membunuh waktu seorang diri bukanlah perkara yang mudah bagi semua orang. We might be surrounded by people who are vulnerable, to whom our help is essential. Menjadi ‘hadir’ dapat membantu mereka melewati satu hari yang terasa begitu panjang. Tolong beri mereka sedikit perhatian di tengah kesendirian, barangkali mereka pun sama—selalu memperhatikan kalian di dalam keramaian. Aren't we homo homini socius, after all?

Teman-teman, selain mengirim doa yang tak kenal henti untuk diri sendiri, mari bersama-sama mengamini pulih untuk dunia ini. Seperti langit Jakarta yang ngga lagi kelabu, mudah-mudahan setelah ini datang banyak hal baik yang baru.

Dan sampai saat itu saya berharap kita masih kuat menggenggam sabar, untuk kembali duduk dan bertukar kabar. :)
-

Mega Oriska

Comments

Popular posts from this blog

Berapa Lama Lagi?

Sebuah Tanya di Teras Rumah

part II.