Pertama yang Kedua
Izinkan saya memulai kembali.
Terlepas dari semua kisah yang telah mendekam di sini sedari lama, yang bahkan saya pribadi pun belum paham kemana arah tujuannya. Lucunya, beberapa pikiran yang kerap menghantui tiap kali saya melakukan kilas balik—membaca serta mencerna kembali semua tulisan saya dari pertama—ialah; “buset malu-maluin banget gue” “eh ini gapenting banget dah” “ini intinya mau ngomong apa sih?”, bahkan yang lebih parahnya; “HAHAHA kok grammarnya ngaco” lalu berujung pada hasrat untuk menghapus postingan-postingan tersebut, atau sekaligus menghapus blog-nya. Namun niat itu saya urungkan, sekuat tenaga, karena saya yakin bahwa siklus 4M (menulis-membaca-malu-menghapus) ini akan terus berulang hingga negara api menyerang. Bukannya memang pola pikir manusia akan terus-menerus berkembang? Maka biarlah saya mengisi platform ini dengan kemampuan yang saya miliki pada masanya sendiri, dan menilai ini semua sebagai proses pendewasaan. Agar kelak dapat dikenang (atau untuk ditertawakan, saya tidak keberatan), oleh diri saya sendiri dan orang lain yang kebetulan meluangkan waktu mereka untuk mampir.
Izinkan saya memulai kembali.
Mari membuat sebuah inisiasi yang baik kali ini, dengan melakukan perkenalan diri yang lebih layak. Tentang siapa pribadi yang telah, sedang, dan akan mewarnai situs ini; menuangkan apapun isi kepalanya, atau apapun isi hatinya. Tidak jauh berbeda dengan sebelumnya memang. Akan seperti anak perempuan yang ikut bermain sepakbola—tidak konsisten, hanya mengikuti kemanapun bola bergelinding. Tulisan-tulisan di sini pun, kelihatannya akan seperti itu. Tidak apa, tidak ada salahnya.
Saya adalah seorang Scorpio. Dan jujur saya tidak terlalu peduli karena saya sama sekali bukan seorang 'penganut' zodiak. Menurut segala hasil tes psikologi, saya adalah seorang ekstrover, dengan persentase yang cukup besar. Namun semakin bertambahnya usia, semakin saya terhantam oleh berbagai tragedi kehidupan, semakin saya dijejali oleh pengalaman dan pelajaran hidup, saya merasa bahwa sisi introver saya semakin menguat dan mengakar, membuat saya rela meluangkan waktu lebih untuk melakukan refleksi diri, serta tenggelam dalam percakapan yang dalam dengan batin saya sendiri.
Saya suka menulis. Entah sejak kapan saya teracuni oleh diksi-diksi, jatuh hati pada tiap untaian kata yang memiliki makna, menjadi lemah pada rayuan-rayuan sastra. Maka mulailah saya menyelami pikiran saya, membendung ide-ide yang mengalir, untuk menghasilkan sebuah karya yang bercerita. Mulailah saya mencari secarik kertas dan pena untuk mengisi celah kekosongan di kepala. Dan dari sini, mulailah saya mencoba melihat segalanya lebih dekat. Benar dengan begitu kita dapat menilai lebih bijaksana—seperti kata Sherina. Namun bukan itu yang perlu digarisbawahi. Poin pentingnya adalah, agar kita dapat melihat segala sesuatu di atas muka bumi ini, lebih dari apa yang terlihat. Menulis membuat saya menjadi lebih peka terhadap segalanya, mulai dari kompleksitas realita kehidupan manusia hingga sesederhana jarum jam yang bergerak dikelilingi oleh deretan angkanya.
Mengapa harus menulis?
“… It’s the streaming reason for living. To note, to pin down, to build up, to create, to be astonished at nothing, to cherish the oddities, to let nothing go down the drain, to make something, to make a great flower out of life, even if it’s a cactus.”—Enid Bagnold
Saya,
Mega Oriska Aprani.
Selamat datang di blog saya.
***
Comments
Post a Comment