Apa yang Ingin Kau Ajarkan?

Ya Allah, apa yang ingin Kau ajarkan?

adalah pertanyaan yang kerap muncul di kepala saya, beberapa bulan terakhir.
--

Halo, izinkan saya menyapa lagi ruang bicara yang telah ditinggal lama, tempat saya membebaskan suara kepala yang kian lama terpenjara. Maaf belum sempat menyapa dan meninggalkan karya karna belakangan ini sedang sibuk menata hati sendiri dari runyamnya isi dunia. Tapi sesuai janji saya, kali ini saya mau berbagi cerita dan pembelajaran yang saya dapat dalam perjuangan saya mendapatkan 2 huruf bermakna sebagai gelar di belakang nama. Yup, perjuangan TA yang sarat akan drama dan airmata :""")

Dimulai dari pemilihan objek TA di salah satu perusahaan di Bandung sekitar bulan September 2018. Keberjalanan TA 1 di semester 7 memang gak melahirkan banyak cerita, berhubung semester itu juga lagi banyak-banyaknya tubes lain yang menyita porsi perhatian saya. Yang paling melekat dalam ingatan saya adalah saat mengerjakan deadline proposal TA bab 1-3 di salah satu sudut GOR di Jakarta di tengah rangkaian karantina GPMB, padahal rasanya nyawa yang tersisa hanya tinggal setengahnya (alias ngantuk bener bos, aseli). Waktu itu mikirnya udah bodoamat, yang penting ngumpulin hahah #tidakuntukditiru

Kehidupan TA yang sesungguhnya baru dimulai di semester 8. Di awal-awal tahun itu susah banget nemuin motivasi buat ngerjain apapun. Saat-saat itu sebenernya saya gak mau NeA bareng temen-temen yang lain, even circle terdekat sekalipun. Sangat sangat insecure. Apalagi neA bareng temen jurusan lain yang kayaknya progressnya udah sangat jauh di depan, boom! that insecurity hits me even harder. Disaat temen-temen lain udah mulai ngotak-ngatik aplikasi atau ngerancang model buat TA-nya, yang saya lakuin cuma bolak-balik ngangkot Dago-Kiaracondong buat dapetin data yang belum jelas kemana arahnya. Gak sekali dua kali saya kesana dan balik dengan tangan kosong huhu. Kadang pikiran-pikiran jahat suka muncul yang membuat saya jadi mendiskreditkan usaha orang lain, susah banget deh pokoknya TA di TI tuh” “enak yah jurusan yang TAnya cuma ngelab, gak ada hubungan sama pihak luarnya etc etc. Maaf ya di titik itu saya udah mindblock, belum bisa belajar mengambil hikmah dari tiap masalah. Padahal ya kalau saya jadi mereka, belum tentu juga saya bisa menyelesaikan TA sebaik yang mereka lakukan. Vice versa.

Karna TA saya fokus di bidang MSDM, sebagian besar data TA saya diambil berdasarkan wawancara. Awalnya saya mikir itu bukan hal yang sulit, toh saya juga senang ngobrol dan berbagi pikiran dengan banyak orang baru. Tapi ternyata kasus di dunia profesional beda. Saya dituntut harus dapat menempatkan diri di sepatu mereka-mereka yang saya wawancara, agar saya lebih paham pekerjaan apa yang mereka lakukan, dan bisa mendapatkan data yang saya butuhkan. Prosesnya panjang, ternyata. Capek? iya. Apalagi masa dimana saya mendedikasikan hampir satu bulan penuh puasa untuk mengambil data ketimbang berkumpul bersama keluarga. Juga harus kembali ke Bandung H+3 lebaran untuk lanjut ambil data. (ampuuun, gak mau diulang...). Dua hal positif yang saya dapatkan saat itu adalah: 1. Bisa lebih menikmati suasana Bandung, karena rute yang dilaluin hampir tiap hari adalah Dago, Riau, dan beberapa jalanan romantis lainnya yang Bandung punya. Kapan lagi, yakan? 2. Pelajaran-pelajaran hidup yang terselip di setiap wawancara dengan pegawai yang ada.

Tapi, ada fase dimana saya sedang gak dalam kendali yang baik terhadap diri saya. Well I'm an obvious extrovert, hobinya curhat ke semua orang, walaupun sebenernya saya juga memilah-milah dan gak serta merta mengeluarkan segala carut marut yang ada. I really am a happy-go-lucky girl, aren't I? Tapi entah kenapa ada saat rasanya saya ingin mengisolasi diri saya dari dunia sosial. I was frequently locked up by my anti-social mood. Maunya diem di kamar aja. Hampir setiap hari gabisa tidur karna selalu dihantui rasa bersalah. Merutuki diri sendiri karna merasa gak berguna. Bersumpah untuk gak membuka sosial media sampai saya lupa untuk turut merayakan hari bahagia teman-teman dekat saya, wow daebak, bahkan sampai saya lupa peran saya sebagai manusia sosial (applause!). Mungkin dinding-dinding kamar kos saya sudah lama tertawa melihat tingkah konyol saya, berkontemplasi untuk menghabiskan sisa-sisa malam saya yang hanya berujung pada air mata. Of course this life always reminded me that I was surrounded by so many, many supportive people, but then again it will always come back to only myself. Mereka hanya menolong, bukan menyelamatkan. Dalam banyak waktu saya bertanya ke diri saya, kenapa TA justru membatasi saya memberikan pertolongan ke orang-orang yang membutuhkan saya? Di situ saya marah sama diri sendiri. Sebuah konflik batin yang sulit untuk dimediasi. Gila ya, TA tuh. It surely affects not only my physical condition, but also my mental health.

Ya Allah, apa yang ingin Kau ajarkan?

Lagi dan lagi. Dengan nada frustrasi pertanyaan itu kembali keluar, tanpa ada usaha untuk mencari jawabannya. Gak bercerita kepada manusia ternyata gak membuat kondisi saya membaik. Namun, beban yang terakumulasi ini saya jadikan bekal saya, untuk selalu mengadu ke Yang Maha Tahu. Sedang mencoba belajar kuat depan semua orang tapi entah kenapa didepanNya saya menjadi makhluk rapuh seada-adanya. Sedang mencoba belajar mengalah dan mengerti keadaan semua orang tapi di depanNya saya selalu menjadi orang yang ingin dimengerti. Gak harus pura-pura jadi dewasa. Gak harus pura-pura baik-baik aja. Lucu, di dalam dunia yang menawarkan banyak nikmat ini, saat itu yang saya tunggu hanya waktu beribadah. Menunggu waktu-waktu untuk menadahkan tangan ke atas, menangis sejatuh-jatuhnya, dan berdoa sedalam-dalamnya. Mau dibilang sok alim pun, bodoamat hahah. Saya berani bersumpah, komunikasi sama Tuhan adalah bentuk komunikasi yang gak ada duanya. Saya rasa, kekuatan doa lah yang membuat saya dapat melewati ini semua dengan kapasitas kemampuan saya yang sangat jauuuuh dari sempurna.

Terimakasih buat semuanya yang turut hadir dalam cerita saya. You guys know who you are. Rasanya gak akan pernah cukup saya berterima kasih sama kalian semua, masing-masing jiwa yang bernyawa. To know and be friends with each of you, are my privileges. Terimakasih juga buat semua yang belum sempat tersebut di kata pengantar dan dimanapun; ruangan LRSKE, ruang tunggu bimbingan LIPSP, perpus TI, sansco, upnormal, starbucks, dunkin, misdo, grind joe, cokotetra, segala tempat ngopi lain, warung SS, sekoteng bangkok, soto boyolali, sate jando, warung Bu Tatang, roti gempol, bakso solo gunung giri, sha-waregna, HAHAH makanan semua isinya. Makasih Bandung, buat langit indah dan jalanan malamnya <3

Dan, untuk orang yang namanya saya sematkan pada poin pertama ucapan terimakasih dalam kata pengantar tugas akhir saya: diri saya sendiri.


Sometimes I am all I think she is, while many other times I feel like I don't know her at all. thank you for comitting to complete 4 years of study and pushing me harder each day despite all the hardships. Emang cuma kamu yang paling paham hitam-putih hidup seperti apa yang udah saya lalui, kamu yang berusaha tetap menyelipkan nasihat-nasihat baik di kepala saya bahkan saat kepala ini udah dipenuhi segalanya yang tidak baik, kamu yang selalu meneriaki saya buat bisa kembali berdiri sendiri saat saya merasa gak ada orang di kanan-kiri saya yang mengulurkan tangan mereka, kamu yang selalu mengingatkan saya kalo saya masih berhutang pada diri saya—puluhan tahun mendatang—hingga saya yang sekarang mau terus bekerja keras. Thank you for being a wonderful friend that you are for your own self. We nailed it, dear self, and I know we will—and absolutely can—face whatever life throws at us, together.

Walaupun saya tahu betul, pertanyaan-pertanyaan yang muncul setelah ini akan seputar kerja dimana?”, “sayang banget gelarnya, gak sekalian lanjut S2? atau bahkan pertanyaan lebih personal semacam mana nih calonnya kok gak pernah diajak kesini? (HADEU we hate society but ironically we ARE society itself). See? people are always asking what's next and always looking for "more". Those questions bother me so much I even wonder is it possible to get to a point where you feel right about where you are and don't want to move any further? Ya tapi namanya juga hidup ya, semua goals yang kita set justru bisa jadi bahan bakar supaya api semangat hidup kita terus menyala. Sederhananya, kalo saya hari ini gatau mau ngapain, rasanya pasti magerrrr banget buat bangun dari tempat tidur. Makanya setiap malam saya suka buat rencana-rencana kecil di otak saya yang isinya “besok mau ngapain, ya?. Semacam mini teklap gitu. Seru aja karna setelah itu saya merasa setiap bangun tidur ada  aja harapan buat digenggam, gak hilang arah aja gitu. Menurut saya, kebiasaan ini berlaku juga untuk rencana-rencana kehidupan yang lebih besar dan krusial. Karna seseorang pernah bilang; although you almost certainly won't end up where you plan to be. That's okayyy, because when you set your goals and work towards them, positive things will happen to you. Paling tidak itu juga prinsip yang saya pegang dan saya percayai.

Saya bukannya mau mengajak kalian semua buat berhenti bermimpi. Rasanya, argumen saya sebelum ini udah nunjukkin kalo saya sepemikiran dengan mereka yang punya visi hidup yang jelas, dibandingkan harus diem dan ngikutin kemanapun arah angin kehidupan bertiup. Saya cuma mau menyampaikan suatu pelajaran hidup yang saya dapat selama fase kemarin, yang semoga-nya bisa jadi pelajaran juga buat orang lain. Sabar. gak usah deh banding-bandingin pencapaian kita dengan orang lain. Seriusan gak akan ada habisnya. Orang lain udah sampe mana juga bukan menjadi validasi bahwa hidup mereka di dunia ini lebih bermakna dibanding kehadiran kita, yang menurut kita belum ada apa-apanya ini. Santaiiii. Boleh kok untuk tetap mengayuh sepeda, tapi jangan lupa buat berhenti, duduk, nafas, dan bersyukur. Seriously guys you need to give yourself permission to be happy now, not when you lost weight, not when you found your soulmate, nor when you have more money. We seek excitement from future events, but once those goals are met, the temporary pleasures will pass and they will be replaced by the next fantasy. Kan? Sudah saya bilang, gak akan ada habisnya. Though I knowww there's always room for growth out there, but right here you, too, are growing. Appreciate being in the moment, terlebih lagi nanti kalo emang kalian lagi dikasih nikmat dan kesempatan buat bersinar. It's okayy to allow yourself to bask in the glory of your achievement before setting the next milestone. Asal nikmat itu gak buat kalian jadi lupa diri dan jadi mengecilkan orang-orang di sekitar kalian. Asal nikmat itu gak buat Tuhan kalian cemburu karna hamba kesayangan-Nya jadi berhenti berdoa dan meminta. But again, take your time to appreciate yourself after achieved something you've been working hard towards. Bersyukur. Biarkan bermodalkan rasa syukur tersebut, kita semua menapaki jalan panjang di depan sana.

Selamat buat kalian yang sudah berada di tempat yang nyaman! Selamat buat kalian yang masih sudah berada di satu titik dalam sebuah perjuangan. Selamat buat segalanya yang ada, selamat buat segala yang belum ada. Teruntuk kawan-kawan diluar sana yang juga sedang mencari jati diri, saya bersama kalian! And hey, isn't it exciting to know that some of our best days, haven't happened yet? hehe.

Bukan maksud menentang yang Maha Mengatur Segalanya, tapi rasanya semakin hari saya semakin punya nyali untuk kembali bertanya;

Apalagi, ya Allah, yang ingin Kau ajarkan?
-

Mega Oriska

Comments

Popular posts from this blog

Berapa Lama Lagi?

Sebuah Tanya di Teras Rumah

part II.