Prioritas, Tolak Ukur Kepedulian?
Satu kata.
Satu kata yang sejatinya dimiliki setiap manusia, dengan caranya yang berbeda-beda. Satu kata yang dengan ajaibnya bisa menjadi sebab rusaknya sebuah hubungan.
Iya ajaib, padahal cuma satu kata.
Pernah gak disaat kalian lagi butuh seseorang, tapi orang yang dibutuhkan itu gak bales-bales chat kalian? Boro-boro buat bales, bahkan baca pun engga. Pernah gak sih disaat kalian lagi overwhelmed dengan apapun yang sedang kalian kerjakan, engga ada satupun orang yang bantuin kalian? Boro-boro buat bantu, bahkan nyemangatin atau sekedar nanyain pun engga juga. Saya rasa bukan lagi suatu hal yang jarang dirasakan, apalagi buat mahasiswa kayak kita yang menganggap dirinya juga 'maha'-sibuk dengan urusan akademik serta segala tanggung jawab kemahasiswaan lainnya.
Tulisan ini saya buat bukan untuk menyinggung siapapun. Mohon maaf jika ada yang merasa tersinggung. Tulisan ini saya buat karena saya pernah merasa menjadi seorang diri, punya teman rasa gapunya teman. Merasa bahwa saya menanggung beban yang paling berat, dan tidak ada satupun orang yang peduli. Yang ternyata salah. Yang ternyata, itu semua cuma ada di pikiran saya.
"Dia sibuk, gue bukan prioritas dia."
uhuk, prioritas.
atau yang lebih parahnya bahkan pertemanan pun bisa retak cuma karna buah pikiran atau asumsi-asumsi yang kita ciptakan di kepala kita sendiri.
"Buat apa gue prioritasin dia, toh dia juga ga prioritasin gue."
Pas banget.
Siapa sih yang ga mau hubungan timbal balik?
Setelah saya perhatikan, hal inilah yang menjadi faktor kenapa saya sering merasa sendiri. Membuat saya mempertanyakan lagi keberadaan teman-teman saya. Membuat saya merasa bodoh dengan apa yang sedang saya lakukan sekarang. Membuat saya merasa salah menentukan prioritas.
Lagi-lagi, prioritas.
Persepsi seperti ini yang harus diubah. Menurut saya perasaan insecure seperti itu manusiawi. Tapi baiknya dalam menjalani hidup, ga cukup jika hanya mengandalkan perasaan. Untuk mengimbangi, logika juga perlu digunakan. Waktu itu mahal, apalagi di umur kita yang idealnya sedang masa-masa produktif. Semakin dewasa, semakin banyak hal yang harus diurus lebih dari sekedar ngerjain tugas besar. Paham bahwa setiap orang juga punya hidup yang harus dipersiapkan. Gabisa kita selalu ada 24/7 untuk ngeladenin semua orang. Engga, definisi prioritas bukan yang seperti itu. Kalo kalian masih berpikiran begitu, selamat! kalian akan capek sendiri memerangi pikiran kalian.
Kalau memang sekarang mau bicara adil, yuk coba kita tengok diri sendiri. Pernah gak saat ada orang lain mau ketemu sama kita, in an exact time, ternyata kita lagi berhalangan? Saya yakin pasti pernah. Saya ambil contoh studi kasus yang cukup jelas jawabannya. Andaikan ada seorang teman yang mau bertemu langsung dengan kita untuk sekedar curhat mengenai drama kehidupan asmaranya, tepat satu jam sebelum kita ujian yang materinya bahkan belum terlalu kita kuasai. Saat itu juga mana yang akan kita pilih? Well, obvious banget jawabannya, setidaknya bagi sebagian besar orang logis. Ya mungkin kita akan tetap menjadi pendengar bagi dia, tapi gak dalam critical time kayak gitu. See? Jika kita memaksa untuk menjadi prioritas orang lain, apakah kita dapat menjamin kesuksesan orang tersebut? Nope. We too prioritize ourselves for that case. Walaupun porsi tiap orang untuk memprioritaskan diri sendiri berbeda-beda. Namun ada kalanya untuk tetap bijak memilih prioritas, dan setiap manusia berhak untuk itu.
Lagi dan lagi, prioritas.
Bagaimana cara mengatur prioritas? Saya pun masih berusaha mencari jawaban yang paling tepat. Namun yang sekarang saya pahami, memilih prioritas adalah memilih tanggung jawab yang dapat membawa manfaat paling besar bagi diri sendiri dan orang lain. Seseorang memprioritaskan akademik bukan hanya karna concern-nya terhadap masa depan pribadinya, namun dia juga merasa memiliki amanah besar untuk membanggakan orang tuanya. Jangan pernah menjadikan orang lain prioritas semata-mata mengharapkan untuk kembali dijadikan prioritas. You will be very disappointed if you go through life thinking people are willing to do for you the same you would do for them. Pilihlah prioritas karna benar kalian ingin menjadikan hal tersebut prioritas. Percaya atau tidak, dengan begitu kalian akan menjalankannya dengan hati yang ikhlas, ada atau tidaknya kehadiran orang lain untuk membantu kalian.
Makin kesini saya semakin bisa mentolerir ketidakhadiran seseorang, bahkan untuk orang-orang terdekat yang biasanya selalu saya lihat pagi, siang, dan malam setiap harinya. Makin kesini pula saya semakin menghargai waktu seseorang, apalagi waktu yang sengaja mereka sempatkan di tengah chaos-nya jadwal mereka, untuk saya. Sebagaimana waktu adalah suatu aset yang sangat berharga yang tidak dapat diganti dengan hal apapun di dunia.
Sekarang saya paham. Mereka bukannya tidak peduli. Namun mereka juga punya kehidupan. Sekali tidak tersedia saat saya butuhkan, bukan berarti mereka tidak ada sama sekali. Segala pencapaian yang saya terima, besar atau kecil, pastilah terdapat sumbangan dari kontribusi mereka. Bayangkan, jikalau memang pemikiran bahwa saya hanya berjuang seorang diri adalah benar adanya, jalan yang saya tempuh tentu tidak akan menjadi semudah ini. Mereka adalah teman saya. Mereka ada. Saya menghargai mereka, pula dengan prioritas mereka.
Menurut pendapat saya pribadi, it's okay untuk berpikir lima kali lebih dewasa terhadap masalah-masalah semacam ini. Bukan untuk menjadi pura-pura kuat. Sama sekali bukan. Cobalah belajar untuk mendengarkan orang lain, ketika kalian juga ingin didengarkan. Cobalah belajar untuk memahami orang lain, ketika kalian juga ingin dipahami. Coba sekali-kali ubah point of view kalian, bahwa di kehidupan ini bukan cuma kita yang selalu menjadi sorotan. Bukan cuma kita yang selalu menjadi tokoh utama. Justru hal-hal seperti inilah yang melatih kita untuk lebih cakap menangani kasus-kasus yang kita temui sehari-hari.
Sekali lagi. Setiap orang punya prioritas, termasuk diri saya sendiri. Setiap orang punya kesibukan, untuk menempa mereka menjadi pribadi yang lebih baik. Dan saya seharusnya senang apabila itu juga terjadi dengan teman-teman saya.
Jadi,
Masih haruskah kita menuntut untuk diprioritaskan?
-
Mega Oriska
Comments
Post a Comment