Kalau Sampai, Mau Apa?


Dulu masih kecil sering ditanya “udah besar mau jadi apa?”, sampai kepala sendiri akhirnya diskusi langsung ke hati, iya juga ya, dewasa nanti saya mau jalanin hidup yang kayak gimana?

Seakan ada tembok raksasa yang membatasi antara hidup hari ini, dan nanti—kalau udah dewasa. Banyak tanda tanya besar, banyak mimpi dilempar ke arah sana. Beberapa bilang dewasa bukan angka yang perlu ditunggu, jadi mereka coba jalan sendiri mencari tau. Beberapa justru sengaja menghindari, tapi berujung gapunya cukup isi untuk menghadapi.

Kali ini saya mau kasih hal yang sedikit personal. Kalau kemarin udah baca cerita saya di fase kuliah tingkat akhir dan drama pengerjaan TA, sekarang saya udah disambut di gerbang fase hidup selanjutnya.

Kalau kita tarik ke waktu saya di umur muda, masih sangat sedikit kamus yang saya kenal tentang cita-cita. Dari sedikit informasi yang saya terima dan peran yang saya temui di dunia nyata, gak sekalipun dalam hidup saya pernah berkeinginan jadi dokter seperti anak lainnya. Pengusaha pun masih sangat abstrak gambarannya di otak saya. Yang saya ingat dulu saya mau menjadi tiga: jurnalis, penyiar radio, atau penulis buku. Sederhana, hanya karna saya suka melihat mereka bekerja atau karya yang mereka punya.

Singkat cerita, dari segala bekal yang saya dapat dan akumulasi pilihan hidup saya, sekarang saya udah berada di sini sebagai seorang sarjana. Udah betul-betul dipercaya untuk keluar dari jeratan sistem yang telah mengikat bertahun-tahun lamanya. Pernah saya baca suatu tulisan dari seorang figur yang isinya penuh amarah tentang pendidikan, yang katanya membebaskan diri dari kebodohan. Terdidik dan terbebas. Padahal pendidikan sendiri adalah bangku-bangku yang memenjara. Manis sekali mempersilahkan kita untuk memilah, padahal alur ceritanya udah dibangun oleh stigma.

Kali ini saya baru meraba makna sesungguhnya dari kebebasan. Baunya asing, rasanya menakutkan. Merdeka yang justru mengundang lebih banyak tanya, yang—mau tidak mau, siap tidak siap—mendorong untuk lebih banyak coba. “Selamat datang ke kehidupan para pencari kerja!” kata mereka yang udah lebih dulu ada di sana. Takut pertama kali pasti ada, dua tiga kali interview jadi biasa. Kecewa pertama kali tentu pernah, dua tiga kali gagal juga....biasa. hahah iya bohong, tetep sakit kok rasanya :”) tapi Steve Maraboli, seorang penulis dan pembicara asal Amerika pernah berkata, “everytime I thought I was being rejected from something good, I was actually redirected to something better.” Sebuah mindset yang coba saya tanam, that slowly makes me view rejection as a blessing-in-disguise.

Dulu saya kira setelah lulus kuliah, saya pun udah lulus dari perilaku toksik membanding-bandingkan, ternyata engga juga. Ketemu lagi tuh sama fase beginian. Sama-sama gak enak, sama-sama buat jatuh. Bedanya, alhamdulillah, sekarang bisa sedikit lebih cepet bangunnya. Satu yang saya paham: mencintai dan menerima diri sendiri udah jadi SKS sendiri dalam hidup. Gak kenal yang namanya lulus. Tapi ya semakin kita bertumbuh, akan semakin banyak cara juga yang kita punya.

Dulu saya mana punya nyali untuk memberikan apa-apa yang bukan pencapaian ke ruang publik, sekarang saya berusaha coba terbuka untuk memberi contoh beberapa kegagalan yang pernah buat saya luka (dan jujur ternyata ini engga mudah). People tend to only share rainbows that caused others not knowing the rains shed behind it. The highlight point is they forgot that there was an immense amount of efforts and downfalls that a person had to go through to be able to stand where they are. Saya gak mau lagi ada orang ngomong “enak banget ya hidupnya” yang membuat mereka gak mengapresiasi usaha mereka sendiri. So I decided to also share my journey along the way though I myself do not know how this one will go, in hope it could inspire others to also keep going. I want my friends (or you—random people who read this) feel grateful and blessed, and always have guts to shout “I am highkey proud of myself!”. Saya ingin kalian, dan saya, selalu ingat bahwa menerima diri sendiri gak kenal kata berhenti.

Kalau temen-temen tanya sekarang saya sibuk apa, saya jadi lebih enteng buat jawab: “still living my life as a jobseeker, hehe.” Surprisingly, mereka gak merendahkan kok. Justru beberapa mengingatkan dan menyemangati saya dengan kalimat-kalimat versi mereka yang menghangatkan hati saya.

Emang gak salah buat berpikir jauh ke depan tapi tolong jangan terlalu berlebihan. Perhatian yang kita miliki sangat terbatas, bahkan sangat sedikit (setidaknya itu kata Mark Manson di buku keduanya). Semua fokus ke titik 'Nanti' yang entah dimana, sampai lupa kalau si 'Hari Ini' juga butuh diperhatiin. Jarang ucap terimakasih sama mereka yang udah banyak bantu: badan hari ini, hati hari ini, otak hari ini, diri kita hari ini. "telen... sabar... proses..." selalu, selalu mereka sebut kalau si 'Nanti' datang gak bawa jawaban yang kita cari.

dewasa udah sampai, kenal juga udah.
Coba, gih, diskusi lagi sama diri sendiri,

sekarang maunya apa?
-

Mega Oriska

Comments

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. bagus sekali pilihan kata-katanya, meg! jadi ngena banget! :" semangat megaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. del, jujur beberapa hari yang lalu gue baru ngestalk blog lo. Masalah pemilihan kata tiap orang punya bahasanya masing-masing, yang susah tuh bikin tulisan yang ada isinya, ada value yang bisa diambil, tapi itu selalu gue temuin di tulisan lo :" ayo kita terus nulis & menginspirasi sesama!! (terus ngobrolnya disini)

      Delete
    2. meg yaampun baru liattt lagii hahaha. jadi terharuu huhu jd pengen lanjut nulis lagi!! haha ayoo semangat dah!! (terus gue lanjutin... wkwk)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Berapa Lama Lagi?

Sebuah Tanya di Teras Rumah

part II.